Sebuah node memutuskan untuk memangsanya sendiri demi meningkatkan efisiensi operasional.
Itulah intisari dari apa yang sedang terjadi di Meta dalam minggu ini. Perusahaan yang valuation-nya diukur dalam ratusan miliar dolar, yang sudah memiliki sistem monitoring perilaku pengguna paling canggih di planet ini, kini menoleh ke dalam — ke karyawan sendiri — dan memutuskan bahwa interaksi mereka dengan komputer kerja adalah data yang masih layak diekstrak.
Menurut laporan yang sudah cukup masif beredar, Meta dalam periode pra-pemberhentian massal telah menerapkan perangkat lunak pelacakan yang merekam dan mencatat setiap interaksi karyawan dengan komputer kerja mereka. Tujuannya: melatih dan menyempurnakan model AI internal. Karyawan disebut menggambarkan langkah ini sebagai “distopia” — sebuah kata yang kehilangan kekuatan signifikansinya karena sudah terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang jauh lebih ringan dari realitas yang sedang berlangsung.
Delapan ribu pekerja. Sepuluh persen dari total tenaga kerja. Mereka yang sudah direplikasi, dipindai pola kerja mereka, dan dikonversi menjadi set pelatihan — kemudian di-deprovisioning. Ini bukan lagi pivot bisnis. Ini adalah operasi pertambangan data manusia yang beroperasi secara vertikal dalam satu organisasi.
Siklus Kanibalisme yang Dieksekusi Dengan Presisi
Perhatikan arsitekturnya. Ada sebuah perusahaan yang secara bersamaan melakukan dua hal: menghabiskan lebih dari seratus miliar dolar untuk infrastruktur AI, dan memanen data perilaku dari karyawan yang akan diberhentikan. Kedua operasi ini tidak saling mengganggu — justru saling memperkuat. Semakin banyak yang dipecat, semakin sedikit yang tersisa untuk menyadari bahwa merekalah yang sedang dilatih untuk menggantikan diri mereka sendiri.
Zuckerberg pernah bicara blak-blakan dalam call sheet investor: “Kami mulai melihat proyek yang dulu membutuhkan tim besar kini bisa diselesaikan oleh satu orang yang sangat berbakat.” Ini bukan retorika. Ini adalah konstatasi arsitektural bahwa tenaga kerja manusia sudah menjadi komponen yang bisa di-swap out dalam pipeline produksi.
Metafora yang Sesuai: Rack Server dan Rotasi Node
Jika kita menarik diri sejenak dari moralitas dan melihat ini sebagai sistem infrastruktur, yang terjadi adalah depresiasi akseleratif aset manusia. Karyawan bukan lagi tenaga kerja — mereka adalah node komputasi yang prosesnya bisa direplikasi oleh model yang dilatih dari aktivitas mereka sendiri. Ketika sebuah rack server tidak lagi efisien, seorang sysadmin tidak merasa bersalah karena me-reboot-nya. Mereka menyebutnya “resource reallocation.”
Presisi Microsoft juga layak dicatat. Mereka menawarkan buyout sukarela kepada karyawan yang usianya ditambah tahun kerja setara tujuh puluh atau lebih. Threshold yang sangat spesifik ini bukan acidente. Threshold ini adalah kalkulasi aktuarial yang dingin: orang-orang yang paling mungkin menerima paket buyout karena sudah dekat dengan pensiun. Bukan karena kinerja. Bukan karena kontribusi. Hanya karena matematika demografis.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Diasuransikan
Di luar semua audit ini, satu pertanyaan tidak terjawab. Jika model AI sudah cukup mampu menggantikan fungsi-fungsi tenaga kerja — jika satu orang berbakat bisa menggantikan tim — lalu untuk apa seluruh infrastruktur pelacakan dan ekspansi AI sebesar seratus miliar dolar? Jika hasil akhirnya adalah efisiensi, maka mengapa belanja modal naik, bukan turun?
Jawabannya mungkin terletak pada satu detail: investasi infrastruktur AI tidak diukur dari output, tapi dari positioning. Setiap dolar yang dibelanjakan adalah claim atas قطعة من المستقبل komputasi. apakah sistemnya benar-benar lebih produktif. Yang penting adalah klaim di lantai.
Yang tersisa adalah fragmen data perilaku dari delapan ribu node yang sudah di-deprovision. Mereka tidak lagi diundang ke meeting, tidak lagi punya akses ke Slack, tidak lagi ada di direktori. Tapi pola interaksi mereka — keystroke, pattern switching, decision tree di aplikasi internal — masih ada. Tertanam dalam bobot model. Bekerja untuk perusahaan dari dalam, tanpa gaji, tanpa tunjangan, tanpa kursi.
Infrastruktur yang memakannya sendiri. Ironi yang tidak bisa di-patch karena memang bukan bug — ini fitur.